Kepada cinta,
Yang pantulan bening matanya bagai cahaya yang menggenggam hatiku
Kumulai surat ini dengan terbata, begitu bimbang dalam menuliskan isi hatiku. Ya….kali ini kubiarkan kau tahu isi hatiku, bukan hanya mengintip, tapi ingin kuebeberkan seluruh isi hatiku untukmu. Kau selalu berkata padaku, bahwa rasio telah menutupi jejak hatiku. Sehingga kau tak mampu merabanya, sehingga bahkan aku sendiri mungkin tak bisa menelaah apa yang ada di dalamnya. Dan karenanya sulit bagiku untuk merasakan tulus hatimu.
Tidak sayang, kau salah.
Tahukah kau aku mampu merasakan hadirmu, bukan hanya secara fisik, bukan pula hanya getaran dirimu. Tahukah kau, aku mampu merasakan hatimu, yang pancaran hangatnya seperti terbitnya matahari di sebuah lembah yang gelap. Begitu dirindukan, begitu diimpikan.
Kau terkadang membuatku terhanyut, sebegitu hanyutnya sampai sel-sel otakku harus menjerit berteriak memanggil nalarku., mengingatkanku untuk kembali menepi dan berpegangan, mengingatkanku untuk menafikan cintamu, agar jangan lagi aku tersesat dalam gelapnya kabut cinta
Sayang, tahukah kamu tentang aku?
Bukan aku yang selalu tegar di hadapanmu
Bukan aku yang menantang berdiri saat terjatuh
Bukan, bukan aku yang mengenakan topeng itu
Tapi aku, aku yang dalam kerapuhanku sangat mencintaimu,
Aku, yang tak tahu harus berbuat apa tentang cintaku padamu..
Aku yang ingin meraih tanganmu, tapi tak punya cukup keberanian untuk mengulurkan tanganku padamu
Aku…aku yang pernah menutup rapat-rapat hatiku pada geliatan cinta
Mengapa, begitu tanyamu suatu hari. Mengapa kau tidak bisa membiarkan aku masuk dan memayungi hatimu, katamu
Biar kukatakan padamu tentang cinta,
Aku pernah jatuh cinta sekali. Hanya satu kali dalam hidupku.
Kuserahkan seluruh hatiku padanya, hanya untuk melepasnya pergi, saat impianku hampir kugenggam
Lalu hati lain ditawarkan padaku, yang ayunannya membuatku mabuk dan terlena,
Hanya untuk mencecap pengkhianatan dan kemunafikan cinta yang pernah dijanjikannya padaku.
Lalu kututup hatiku untuk cinta,
Dan kuabadikan hariku untuk menafikannya…tak ingin berbagi dengan siapa pun, tak ingin menggandeng tangan siapa pun
Dan kau datang….
Kau tidak memberiku janji, bunga atau apapun kecuali cintamu
Kau hanya berdiri dan merentangkan tanganmu, siap untuk menangkapku.
Kau hanya menunggu, sampai aku jatuh cinta padamu.
Dan aku memang jatuh cinta padamu
Dan aku memang mencintai caramu memandangmu, memuji kesabaran hatimu atasku
Dan diam-diam aku ingin memberikan hatiku padamu
Tapi sayang, apakah benar bahwa cinta saja tidak pernah cukup untuk mendapatkan dia sang pemilik hati?
Aku dan kamu bergerak dalam lingkaran waktu yang berbeda, dalam dunia yang tak mampu kita lepaskan renggutannya. Kau dengan dirimu dan aku…aku yang selalu berada dalam labirin mayaku.
Waktu itu kejam tapi nyata, sayang. Dan waktu terbukti sanggup memisahkan tangan yang tergenggam erat, tanpa belas kasihan, tanpa peringatan, dia mampu melakukan apa pun terhadap kekasih yang mencinta.
Yang tak mampu dilakukannya hanyalah mengobati torehan tajam yang menggaris dalam di hati.
Yang cabikannya mungkin akan berujung pada tangisan abadi.
Dan itu bukan akhir yang kuinginkan untukmu dan aku…
Ini sayang,
Adalah sebuah pertanyaan untukmu,
Apa sebaiknya yang harus kulakukan dengan cintaku padamu?
Kamis, 05 Februari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
