HUJAN MALAM INI
by ISYANA AGUSTINA
Aku baru menyadari kalau hujan pun punya aroma. Aroma yang manis…segar dan sedikit memabukkan. Aroma hujan yang terhirup paru-paruku seperti campuran antara ranting yang patah dan tunpukan daun-daun yang terserak berguguran. Seperti berjalan memasuki bibir hutan. Hnaya saja tanpa keheningan yang menenangkan dan nyayian lirih burung-burung hutan.
Aroma itu kusisap dengan rakus. Memasukkan sebanyak mungkin ke dalam aliran darahku. Mencoba untuk mabuk..mencoba untuk terhisap. Kantuk tak jua menderaku malam itu. Padahal telah lewat tengah malam, padahal telah gelap langit tanpa bintang. Aku tak tahu yang mana yang jadi penyebab kantukku. Apakah 3 jam tidur nyenyak kulewatkan siang tadi, segelas penuh teh hijau yang kuhabiskan sesaat sebelum beringsut ke tempat tidur, ataukah ragam topik yang berlomba berteriak meminta perhatianku. Dan tak satu pun dari mereka yang bisa kukerjakan malam ini.
Di teras balkon aku menatap ke jalan kecil di depan kos-ku. Sepi..hening…tidak ada satu mahkluk hidup pun yang bernafas menemaniku malam ini. Tukang nasi goreng yang biasa mangkal di simpang jalan pun hari ini absen, riuh rendah suara bapak-bapak di kedai kopi yang biasa main catur sampai dini hari pun memilih tidur bersama istrinya di malam dingin ini, bahkan sesosok mungil tikus yang biasa melewati jalan-jalan sempit menuju selokan pun tidak ada. Semuanya bersembunyi, semuanya terlelap. Lampu-lampu kamar dimatikan,, tirai-tirai jendela tertutup rapat. Hanya sayup kudengar suara sirene di kejauhan…entah apa yang terjadi di suatu tempat. Kebakarankah? Sirene ambulanskah? Ataukah ada mobil patroli polisi yang mencegat anak muda yang menyetir ugal-ugalan akibat alkohol yang ditegaknya.
Ah, bodo amat!! Dengan tegas kuusir pikiran tentang berbagai kemungkinan itu. Benakku telah cukup penat dan letih. Pikiran tentang pekerjaan yang tak sabar ingin kuselesaikan di kantor besok, deadline penulisan yang telah kuabaikan beberapa kali, dan tentang dia….
Aku menghela nafas. Biasanya saat pikiranku buntu, aku akan berlari pada ibuku. Wanita suci itu selalu menjadi tempat bertanyaku, selalu menjadi curahan hatiku. Ibuku bukan ilmuwan ternama, pun bukan seorang yang ahli dalam merawi hadis. Dia Cuma perempuan bijak yang penuh cinta. Dan cintanya selalu mendorongku untuk berani mengambil keputusan, selalu mampu meredakan galauku. Tapi ibu telah tiada. Dan hidupku harus kuselesaikan dengan benar, sebagian agar dapat mengadapi ibu dengan bangga pada hari yang dijanjikan. Aku tahu itu. Tapi kadang kala aku masih sangat merindukannya. Dan setiap kali merindukannya, aku melihat ke langit, mencari bintang yag paling terang yang berkerlip di sana. Menatapnya seolah bintang itu adalah pengganti senyum ibuku. Menganggapnya polar star yang akan menuntunku dari ketersesatan.
Tapi hujan menghapus bintang dari langit malam ini. Sekarang tanggal 18, namun tak sebentuk bulan pun yang bersinar di angkasa. Hujan menguasai langit dengan awannya. Dan menebarkan gelap yang semakin membangkitkan gundah gulanaku. Aku teringat lagi akan dia. Dia yang mencuri hatiku pelan-pelan. Berdiam dan menggeliat kuat walau kutekan dan kuredam rapat-rapat. Dia yang membuat perutku mual saat melihatnya, dan tenggorokanku kering karena mau tak mau aku harus berbicara padanya. Aku menyadari kemudian bahwa aku tak bisa lagi berlama-lama dalam tatapan matanya. Tak bisa lagi tertawa lepas saat bersamanya, karena harus meredam detakan jantungku yang memburu. Dan aku mulai sangat sensitif akan sedikit saja perubahan tingkah lakunya. Aku mulai terpenjara akan dia. Aku jatuh cinta padanya.
Kisah cinta tidak akan menjadi kisah cinta jika tanpa air mata. Dan betapa perbedaan mulai menyayat hati dan menumpahkan air mata. Dan betapa rintangan mulai membuat kelelahan dan putus asa. Dan betapa cinta yang tak terungkap kata, tidak mampu meredam prasangka dan rasa cemburu. Dan saat semuanya memuncak, tersemburlah kata-kata yang tak ingin dan tak seharusnya diucapkan.
Aku menangkupkan kedua tangan di mataku, berusaha untuk menghapus wajahnya. Tapi tak mungkin terhapuskan, karena dia telah merajai mimpi-mimpiku dan membuatku buncah dengan hadirnya. Membuatku sadar tak ada jalan keluar selain menghadapi semuanya esok hari. Apa pun yang akan terjadi esok hari.
Sehembusan angin merabai tengkukku. Membuatku mengigil karena angin itu menimbulkan rasa sejuk yang menenangkan. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas bagiku, dan aku pun tahu bagaimana harus menghadapinya besok. Tiba-tiba semuanya menjadi terang bagiku, bahwa aku harus mendengar kata hatiku..tanpa memperdulikan rintangan apa pun yang menghadang di depanku. Aku hanya harus percaya….padanya…pada cintaku padanya…dan pada cintanya terhadapku…Cuma itu.
Tiba-tiba sekerlip cahaya tertangkap oleh mataku. Sebuah bintang mengerlip lemah, seperti telah bersusah payah menyingkirkkan awan hitam untuk bertemu denganku. Aku tersenyum padanya. Entah kenapa….tiba-tiba aku mengantuk sekali..
Surabaya, dini hari ini…18 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar